Jumat, 10 Maret 2017


DINAMIKA KELOMPOK

            Dinamika atau yang lebih familiar dengan interaksi kelompok sangat penting untuk dipelajari. Oleh karena itu, pada postingan kali ini, saya akan menjelaskan secara singkat mengenai interaksi kelompok. Selamat membaca J

  1. Proses Kelompok
    Organisasi terdiri dari sejumlah kelompok yang saling berkaitan dan saling membutuhkan dalam suatu tingkatan tertentu. Fiedler (1967) memberikan penjelasan tentang tipologi dari kelompok kerja yang didasarkan pada sifat dan intensitas interaksi, yaitu:

  1.  Kelompok Interaksi (interacting groups)
    Para anggotanya saling tergantung satu sama lain, dan segala tugas mereka  disusun dan dikerjakan bersama untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
  2.  Kelompok Koaktif (co-acting groups)
    Anggota kelompok ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kelompoknya,    tapi masing-masing anggotanya dapat melakukannya secara mandiri dan tidak saling tergantung.
  3.  Kelompok Konteraksi (counteracting groups)
    Anggota kelompok ini bekerja sama dengan melakukan musyawarah dan   memufakatkan setiap masalah dan tuntutan yang bertentangan.


  1. Gejala dalam Proses Kelompok
    Tiga fungsi akan dibahas lebih lanjut untuk menjelaskan gejala yang timbul dalam proses interaksi antar kelompok, yaitu:

  1. Sebagai penimbul gagasan baru dan penyelesaian kreatif,
  2. Sebagai mekanisme pemecahan masalah.
  3. Sebagai pelancar pelaksanaan keputusan majemuk.

Ketiga fungsi tersebut berkaitan dengan pandangan Leavitt bahwa proses manajemen dibagi kedalam tiga tahap, yaitu:

  • Tahap ‘Pathfinding’
    Tahap ini merupakan tahap pemanduan bersibuk diri dengan memahami maksud dari tujuan organisasi tersebut, dan caranya adalah dengan menciptakan masalah-masalah yang menarik.
  • Tahap Pemecahan Masalah
    Tahap ini menjelaskan bahwa setiap masalah yang ditemukan harus diseleksi, sehingga kita mampu mengetahui cara menyelesaikannya.
  • Tahap Implementasi
  • Tahap ini mencangkup kegiatan membentuk, menyusun, menjual, dan membuat sesuatu menjadi terjadi.

      Ketika kelompok menjalankan fungsinya, secara tidak langsung kita dapat menemukan timbulnya gejala-gejala yang secara umum dapat kita lihat. Diantaranya adalah:

  • Konformisme = Para anggota kelompok mengikuti pola-pola perilaku tertentu dalam kelompoknya. Hal ini tumbuh karena interaksi yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
  • Kelekatan (cohesiveness) =Kelekatan dapat dilihat dari tinggi rendahnya kesepakatan para anggota kelompok terhadap sasaran kelompok tersebut, serta saling menerima antar anggota kelompok lainnya.
  • Sinergi = Gejala yang timbul ketika keputusan yang diambil kelompok merupakan keputusan yang paling baik dibandingkan keputusan yang diambil oleh setiap anggota kelompok tersebut.
  • Groupthink = Gejala yang merupakan kelemahan dari sebuah kelompok. Dimana karena kelompok tersebut terlalu lekat satu sama lain, kecapakan dalam pengambilan keputusan menjadi berkurang.
  • Polarisasi Kelompok = Gejala yang lain adalah ketika adanya pergeseran keputusan yang menuju kedua daerah ekstrem, yaitu keputusan yang mengarah ke resiko yang sangat tinggi atau keputusan yang mengarah ke resiko yang sangat rendah.

            Sistem terdiri dari berbagai subsistem, dan berinteraksi secara sambung-menyambung dengan sistem lain dalam satu suprasistem. Subsistem berinteraksi secara sambung-menyambung dengan subsistem lainnya dalam satu sistem. Dan dalam interaksi antarkelompok terdapat beberapa bagian yang akan dibahas. Diantaranya yaitu:

  1. Saingan atau Konflik Antarkelompok
    Robbins (1998) berpendapat bahwa konflik “adalah satu proses yang dimulai jika satu pihak beranggapan bahwa pihak lain telah secara negatif mempengaruhi, atau sesuatu yang akan dilakukan atau yang menjadi perhatian pihak pertama.” Batasan menut Robbins mengenai konflik juga cukup luas. Apabila dua orang memiliki pandangan yang berbeda, hal tersebut disebut konflik. Kelompok yang saling bersaing pun juga disebut dengan konflik.

  2. Teknik-teknik Mengurangi Akibat Negatif dari Saingan
    Berikut ini beberapa teknik yang dikemukakan oleh Schein (1980) untuk digunakan dalam mengurangi konflik, yaitu:

  • Menemukan musuh bersama.
  • Pimpinan atau subkelompok dari kelompok -kelompok yang bersaing dibawa berinteraksi.
  • Menemukan tujuan yang mencakup (Superordinate).
  • Pelatihan antarkelompok melalui penghayatan pengalaman (Experiental Inter Group Training).


  1. Dimensi dari Intensi Menyelesaikan Konflik
    Keempat intensi menyelesaikan konflik adalah:

  • Bersaing (Competing).
  • Bekerja sama (Collaborating).
  • Berkompromi (Compromising).
  • Menghindar (Avoiding).
  • Menyesuaikan (Accomodating).

Selain keempat intensi tersebut, ada beberapa teknik penyelesaian konflik yang disampaikan oleh Robbins (1998), yang bersifat situasi win-win.

  • Teknik problem solving.
  • Teknik pengadaan sumber yang lebih banyak.
  • Teknik pelunakan (smoothing).
  • Teknik perintah otoritatif.
  • Teknik mengubah variabel menusia.
  • Teknik mengubah variabel structural.



TEAM BUILDING

            Tim dan grup adalah kata yang sering digunakan beriringan. Beberapa akademik mempertahankan pendapatnya bahwa sangatlah susah, bukanlah tidak mungkin, untuk membedakan antara tim dan grup (Guzzo & Dickson, 1996), tetapi terdapat pula pendapat lain bahwa terdapat perbedaan diantara keduanya.

    1. Tipe-Tipe Tim
      Perbedaan tipe-tipe tim akan di bahas pada sesi di bawah ini:

  • Work Teams
    Tim kerja relatif permanen dan terkait pada pekerjaan sehari-hari.
  • Top Management Team
    Top management team tidak harus menjadi sebuah peraturan formal seperti sebuah komite.
  • Cross Functional Teams
    Cross functional teams normalnya tergambar dari level hierarki yang kurang lebih sama, tetapi dari area fungsi yang berbeda dengan sebuah organisasi, atau bahkan antar organisasi-organisasi, dan mereka datang bersama untuk menunjukkan sebuah tugas tertentu.
  • Project Teams

Ada beberapa kesamaan antara cross functional teams dan project teams. Dalam berbisnis kita memiliki tim yang datang dengan tingkatan yang bermacam-macam untuk bekerja dalam sebuah proyek. Spesialis yang berbeda dapat membuat sebuah kontribusi untuk sebuah proyek dalam waktu yang berbeda.

  • Venture Teams
    Venture teams mencoba untuk mengetuk sumber dari departemen kreatif sampai organisasi.
  • Quality Circles

Tim-tim ini sibuk dengan kenaikan kualitas dan efektivitas. The Quality circle (QC) bisa dianggap sebuah perluasan ke filosofi dasar dari proses menejemen yang partisipatif.

  • Self-Managed Teams

Self-managed teams atau grup, dengan sekitar 10-15 pegawai, bisa dianggap sebagai pengganti untuk autonomous work groups dan mereka mengambil tanggung jawab dari supervisor mereka yang sebelumnya (Cohen, Ledford, & Spreitzer, 1996).

  • Virtual Teams

Sebuah virtual teams telah diartikan sebagai sebuah bentuk fisik tugas grup terpisah yang mengadakan bisnis lewat teknologi informasi modern (Martins, Gibson, & Maynard, 2004).

    1. Model Pembentukan Tim

Pembentukan tim adalah sebuah proses peningkatan efektifitas tim, dan istilah ini sering digunakan bergantian dengan pengembangan tim (Hogg & McInerney, 1990). Dibawah ini adalah tinngkatan pembentukan tim, diantaranya:

  • Model Pengembangan Grup

  • Forming
  • Storming
  • Norming
  • Performing
  • Adjournment

  • Performa Tinggi Tim

  • Abilities and Skills
  • Commitment to Specific, Challenging, and Clearly Defined Goals
  • Potency
  • Rewards
  • Size, etc



Referensi

Fiedler, F.E. (1967). A Theory of Leadership Effectiveness. New York: McGraw–Hill.

Leavitt, Harold J., Homa Bahrami. (1988). Managerial Psychology (5th ed.). Chicago, London: University of Chicago Press.

Robbins, S.P. (1998). Organizational Behavior. Concepts, Cotroversies, Applications (8th ed.).  New Jersey: Prentice Hall.

Schein, E.H. (1980). Organizational Psychology (3rd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Munandar, A.S. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Guzzo, R.A., & Dickson, M.W. (1996). Teams in Organizations: Recent research on performance and effectiveness. Annual Review of Psychology, 47, 307-338.

Cohen, S.G., Ledford, Jr., G.E., & Spreitzer, G.M. (1996). A predictive model of self managing work team effectiveness. Human Relations, May, 643-676.

Martins, L.L., Gibson, L.L., & Maynard, M.T. (2004). Virtual teams: what do we know and where do we go from here? Journal of Management, Nov., 805-835.

Hogg, C., & McInerney, D. (1990). Team building. Personnel Management, Oct., Factsheet 34.

McKenna, E. (2012). Business Psychology and Organizational Behaviour (5th ed.). New York: Psychology Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar